Kisah Pelarangan Buku Pasca Reformasi*

#artikelsatu
#artikelsatu

Kejaksaan Agung melarang 13 Buku sejarah untuk SMP dan SMA… Hal ini karena buku-buku tersebut tidak mencantumkan kata “PKI” di belakang istilah “G30S” dan tidak mencantumkan pemberontakan PKI Madiun tahun 1948…

 

Meski reformasi sering diidentikkan dengan kebebasan, tapi pelarangan buku tidak sepenuhnya hilang pasca runtuhnya rezim Orde Baru. Berbagai kisah pelarangan buku masih terus bergulir bahkan di era Reformasi sekalipun.

Pelarangan buku bukan hal baru di Indonesia. Tercatat, pelarangan buku telah ada sejak tahun 1950-an, ketika kekuatan militer meningkat di dalam perpolitikan nasional. Berbagai pemberontakan yang terjadi di sejumlah daerah yang berujung penetapan status darurat,  membuat KSAD Mayjen AH Nasution melakukan pelarangan pada buku-buku (pada saat itu secara luas diartikan sebagai barang-barang cetakan) yang berpotensi menghasut, mengecam, dan menghina pejabat-pejabat negara. Tentu, definisi dan tafsir atas hasutan, kecaman, dan hinaan, ditentukan oleh subjektifitas militer.

“Hoakiau di Indonesia” karya Pramoedya Ananta Toer adalah salah satu buku pertama yang dilarang oleh militer dan berujung pada satu tahun pemenjaraan bagi penulisnya. Sebelum buku ini, telah banyak media dan wartawan yang menjadi korban. Orde Lama dalam perjalanannya beberapa kali melakukan pelarangan hingga akhir rezim pada tahun 1966.

Orde Baru yang berdiri diatas narasi peristiwa pemberontakan G30S yang dilakukan oleh PKI (versi buku putih pemerintah), menjadi puncak dari pelarangan buku di Indonesia. Terhitung ada ratusan buku dan media cetak yang dilarang edar, sebagian besar karena indikasi penyebaran paham Marxisme-Leninisme/ Komunisme (dilarang berdasarkan Tap MPR XXV/ MPRS/ 1966), “penyelewangan” narasi G30S, dan tentu saja kritik atas Orde Baru. Beberapa karya dari penulis ternama seperti Pramoedya Ananta Toer, Utuy Tatang Sontani, Sobron Aidit, Agam Wispi, Christianto Wibisono, Ben Anderson, dan Soe Hok Gie, menjadi korban dari pelarangan ini.

Reformasi yang mencapai puncak pada tahun 1998 dengan mundurnya Soeharto, menjadi angin segar bagi semangat kebebasan intelektual di Indonesia. Setelah reformasi bergulir, banyak buku-buku yang dulunya dilarang perlahan mulai muncul, diperjual-belikan, dibaca, dan didiskusikan di publik. Namun, kebebasan intelektual yang berhempus, tidak berarti bahwa semua buku bebas dari pelarangan. Terhitung masih ada puluhan buku yang dilarang beredar di Indonesia pasca Reformasi. Berikut adalah beberapa contoh yang diurutkan berdasarkan pembabakan Tahun :

  1. 2002 – “Aku Bangga Menjadi Anak PKI” karya Ribka Tjiptaning

Buku karya dokter Ribka ini dilarang setelah kajian yang dilakukan oleh Kejaksaan Agung sejak pertama kali buku terbit pada 1 Oktober 2002. Alasan pelarangannya karena buku ini berpotensi menyebarkan paham komunisme yang telah dilarang di Indonesia. Ribka mengatakan bahwa Kejaksaan Agung telah salah paham hanya karena melihat judul buku yang ditulisnya.

  1. 2003 – “Pembunuhan Theys: Kematian HAM di Tanah Papua” karya Benny Giay

Buku karya Benny Giay yang terbit pada November 2013 dan diterbitkan di Jayapura ini dilarang oleh Kejaksaan Negeri Jayapura pada tahun 2003. Buku ini bercerita tentang kematian Ketua Presidium Dewan Papua oleh Kopassuss (Pasukan elit Khusus TNI) pada 10 November 2001.

  1. 2006 – Atlas Bergambar bendera Bintang Kejora dan “Kutemukan Kebenaran Sejati dalam Al-quran” karya Maksud Simanungkalit

Berbeda dengan beberapa tahun sebelumnya, pada 2006 Kejaksaan Agung melarang Atlas terbitan Penerbit GBS Jakarta, Penerbit Karya Agung Surabaya, Penerbit Mitra Pelajar Surabaya, dan Penerbit Amelia Surabaya. Pasalnya, Atlas terbitan penerbit-penerbit ini mencantumkan bendera dengan gambar “Bintang Kejora”. Bintang Kejora adalah bendera yang digunakan oleh Organisasi Papua Merdeka (OPM) untuk negara Papua Merdeka. Selain Bintang Kejora, pada 2006 Kejaksaan Agung juga melarang buku “Kutemukan Kebenaran Sejati dalam Al-quran” karya Maksud Simanungkalit karena dianggap telah menodai ajaran agama Islam.

  1. 2007 – 13 Buku Sejarah untuk SMP dan SMA

Kejaksaan Agung melarang 13 Buku sejarah untuk SMP dan SMA karena menurutnya buku-buku tersebut telah melakukan “Pemutarbalikan Sejarah”. Hal ini karena buku-buku tersebut tidak mencantumkan kata “PKI” di belakang istilah “G30S” dan tidak mencantumkan pemberontakan PKI Madiun tahun 1948. Menurut Kejaksaan Agung hal ini dapat menimbulkan kerawanan, terutama soal persatuan dan Kesatuan Bangsa.

  1. 2009 – Pelarangan Lima Judul Buku

Pada tahun 2009, terdapat 5 judul buku yang menjadi korban pelarangan oleh negara. Kelima buku tersebut adalah :  (1). “Dalih Pembunuhan Massal: Gerakan 30 September dan Kudeta Suharto” karya John Roosa; (2). “Suara Gereja Bagi Umat Tertindas: Penderitaan, Tetesan Darah, dan Cucuran Air Mata Umat Tuhan di Papua Barat Harus Diakhiri” karya Socrates Sofyan Yoman; (3). “Lekra Tak Membakar Buku: Suara Senyap Lembar Kebudayaan Harian Rakyat 1950- 1965” karya Rhoma Dwi Aria Yuliantri dan Muhidin M. Dahlan; (4). “Enam Jalan Menuju Tuhan” karya Darmawan, MM; dan (5) “Mengungkap Misteri Keberagaman Agama” karya Drs. H Syahrudin Ahmad. Alasan dari pelarangan buku-buku ini karena dianggap dapat mengganggu persatuan dan kesatuan Bangsa.

Selepas tahun 2009, pelarangan tidak berhenti terjadi. Bentuk-bentuk pelarangan terus terjadi dengan berbagai bentuk dan pelaku-pelaku yang makin beragam. Berbagai kisah razia, penarikan buku, penangkapan, dan sebagainya meliputi perjalanan buku di Indonesia pasca Reformasi. Reformasi ternyata tidak membawa kebebasan penuh atas intelektualitas dalam bentuk buku. Kegiatan menulis, membaca, dan memiliki buku pada satu titik ternyata masih dianggap berbahaya dan patut dicurigai oleh negara. Bagaimana jadinya sebuah bangsa yang lebih senang melarang daripada mencipta ?

Dirangkum dari berbagai macam sumber dengan penambahan.

 

*Ditulis oleh Tim Berbuku

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

A WordPress.com Website.

Up ↑

%d bloggers like this: